Penanganan

Penyakit Ginjal Tahap Akhir

Tidak ada obat untuk penyakit ginjal kronis, tetapi dengan perawatan yang tepat, hidup lebih panjang dan produktif dapat dicapai. Penanganan yang perlu diperhatikan dan dapat menjadi pilihan bagi penderita penyakit ginjal kronis yaitu terapi modalitas, terapi nutrisi, pembatasan cairan, terapi obat dan dukungan psikologis.(1,2)Keterangan: IBW Ideal Body Weight atau berat badan ideal, dapat dinilai dengan berat badan (BB) setelah hemodialisis (HD) pada penderita PGTA yang stabil

Terapi Modalitas

Ada tiga pilihan perawatan modalitas pada penderita PGTA yaitu terapi pengganti fungsi ginjal berupa dialisis atau transplantasi ginjal, serta manajemen konservatif.(1,2)

  • Dialisis: Ada dua jenis dialisis yaitu hemodialisis (HD) dan dialisis peritoneal (PD). Hemodialisis menggunakan mesin dialisis atau ginjal buatan, sedangkan dialisis peritoneal menggunakan lapisan lambung penderita. Kedua perawatan ini akan mengambil alih sebagian fungsi ginjal yang rusak dengan membuang produk limbah dan cairan yang berlebih dari dalam tubuh. Penderita yang memilih perawatan ini harus menjalani dialisis seumur hidup. Perawatan ini dapat mengurangi gejala yang muncul dan memperbaiki kualitas hidup penderita. Perawatan hemodialisis biasanya dilakukan di rumah sakit atau di klinik. Dialisis peritoneal biasanya dilakukan di rumah.
  • Transplantasi ginjal: Transplantasi ginjal adalah operasi yang menempatkan ginjal yang sehat dari pendonor yang cocok di dalam tubuh penderita, dengan tujuan menggantikan fungsi ginjal yang telah rusak.
  • Manajemen konservatif: Perawatan ini dapat menjadi pilihan jika penderita memilih tidak menjalani dialisis atau transplantasi ginjal. Perawatan ini membutuhkan integrasi penuh perawatan paliatif, yaitu perawatan yang berfokus pada kualitas hidup dan pengelolaan gejala. Manajemen konservatif juga disebut sebagai perawatan konservatif komprehensif atau perawatan non-dialisis. Perawatan ini juga dapat menjadi “pilihan terbatas” bagi penderita yang memiliki keterbatasan akses terhadap terapi pengganti fungsi ginjal akibat jumlah mesin dialisis dan tenaga kesehatan terlatih di rumah sakit yang minim, keuangan yang tidak memadai, tidak memiliki asuransi kesehatan, dukungan pengasuh yang tidak memadai, atau hambatan untuk mengakses perawatan seperti jarak atau keamanan.(1,2,3)
Pola makan pada penderita penyakit ginjal kronis mungkin akan berubah seiring dengan waktu dan penurunan fungsi ginjalnya. Penderita yang menjalani dialisis perlu memastikan jumlah protein dan mineral tertentu (natrium atau garam, kalium, dan fosfor) yang tepat yang dapat dikonsumsi dengan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional. Protein dapat hilang setiap kali penderita menjalani dialisis, sehingga penderita mungkin perlu mengonsumsi protein lebih banyak sesuai anjuran. Protein yang dikonsumsi, lebih dari 50 % harus bernilai biologis tinggi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perbaikan sel tubuh seperti daging sapi, putih telur, susu, ikan, dll.(1,4) Penderita yang menjalani dialisis juga harus membatasi jumlah cairan yang dikonsumsi. Tujuan pembatasan cairan adalah membatasi Interdialytic Weight Gain (IDWG) atau kenaikan berat badan diantara jadwal dialisis,(5) karena ginjal sudah tidak mampu berfungsi sebaik yang seharusnya, tidak lagi mampu mengeluarkan cairan yang berlebih. Jika terlalu banyak cairan menumpuk, hal itu dapat berdampak buruk pada kesehatan, seperti kesulitan bernapas dan pembengkakan.(1,6)
Tabel Kebutuhan Nutrisi pada Pasien PGTA Usia Dewasa dengan Terapi Hemodialisis(4) 
Kebutuhan Nutrisi Jumlah Kebutuhan/ Hari
1 Energi 35 kcal/ kg IBW
2 Protein 1,2 g/ kg IBW
3 Cairan 500-1000 ml/ hari + urine output
4 Natrium/ Garam 2-3 g/ hari
5 Kalium 2-3 g/ hari atau 40 mg/ kg IBW
6 Fosfor 0,8-1,2 g/ hari atau < 17 mg/ kg IBW
Sedangkan, penderita dengan transplantasi ginjal umumnya tidak memiliki kebutuhan atau pantangan nutrisi seperti penderita yang menjalani dialisis. Mengkonsumsi makanan yang sehat menjadi hal yang penting. Jika penderita memiliki penyakit penyerta seperti tekanan darah tinggi atau diabetes, maka berkonsultasi dengan tenaga kesehatan perlu dilakukan.(1)

Beberapa obat residunya dibuang dari darah melalui ginjal, namun tidak semua jenis obat. Jadi, penting bagi penderita PGTA berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan penggunaan obat-obatan yang dianjurkan, suplemen, obat herbal, atau terapi bebas lainnya tetap aman bagi ginjal. Penderita mungkin juga perlu mengonsumsi obat-obatan atau suplemen untuk mengelola komplikasi tertentu sesuai kebutuhannya. Terapi dapat mencakup obat penurun tekanan darah tinggi, suplemen besi, kalsium, vitamin D, obat diuretik untuk mengurangi penumpukan cairan di dalam tubuh, atau obat-obatan yang menurunkan fosfor atau kalium dalam darah.(1,4,7)

Penderita dengan transplantasi ginjal perlu mengonsumsi obat imunosupresan, yaitu obat-obatan yang menurunkan kemampuan tubuh untuk menolak organ yang ditransplantasikan. Biasanya, tubuh akan melawan apa pun yang bukan bagian dari dirinya sendiri, seperti kuman dan virus. Sistem perlindungan ini disebut sistem imun. Untuk mencegah tubuh menyerang atau menolak ginjal donor, obat imunosupresan diperlukan untuk menjaga sistem imun agar tetap kurang aktif.(1)

Terdiagnosis mengalami gagal ginjal mungkin dapat sangat mengejutkan, meskipun penderita telah lama mengetahui tentang penyakit tersebut. Penderita mungkin akan kesulitan untuk mengatur jadwal perawatan jika memilih menjalani dialisis. Penderita dapat bergabung dengan kelompok pendukung penderita PGTA sehingga dapat saling berbagi pengalaman tentang penyakit yang diderita. Berbagi perasaan kepada seseorang yang dipercaya (teman, anggota keluarga, pemimpin agama, atau orang lain yang dipercaya) tentang perasaan mungkin juga dapat membantu penderita menghadapi situasi yang dialami. Kelelahan dan stres yang dialami juga dapat diatasi dengan mempertahankan rutinitas seperti terus bekerja atau melakukan aktivitas yang disukai, jika kondisi penderita memungkinkan. Penderita juga dapat meminta rekomendasi penyedia layanan kesehatan untuk dapat dihubungkan dengan konselor jika kondisi psikologis memberat.(3)

Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan oleh penderita ketika memilih perawatan, termasuk gaya hidup, masalah kesehatan, dan kebutuhan akan seseorang yang membantu perawatan. Pengambilan keputusan harus didasarkan pada riwayat kesehatan, hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan interprofesional (dokter, perawat, ahli gizi), serta keinginan penderita dan keluarga.(1)

  1. National Kidney Foundation. Kidney Failure. [Internet]. 2023. Available from: https://www.kidney.org/kidney-topics/kidney-failure
  2. Davison SN, Pommer W, Brown MA, Douglas CA, Gelfand SL, Gueco IP, et al. Conservative kidney management and kidney supportive care: core components of integrated care for people with kidney failure. Kidney Int. 2024;105(1):35–45.
  3. Mayo Clinic. Diagnosis and Treatment. End-stage renal disease [Internet]. Available from: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/end-stage-renal-disease/diagnosis-treatment/drc-20354538?p=1
  4. Escott-Stump S., Raymond JL. Krause and Mahan’s food and the nutrition care process. 16th ed. St. Louis: Elsevier; 2022.
  5. Smeltzer, S. C.; Bare, B. G.; Cheever, K. H.; Hinkle JL. Brunner & Suddarth’s Textbook of Medical-Surgical Nursing. 12th ed. Philadelphia: Wolters/Lippincott Williams & Wilkins; 2010.
  6. Nurwidiyanti E. Keperawatan Ginjal dan Saluran Kemih: Manajemen Pasien Gangguan Urinaria In Keperawatan Medikal Bedah: Panduan Komprehensif Asuhan Pasien dengan Pendekatan Holistik. Penerbit Buku Loka; 2024.
Scroll to Top