Manajemen

Interdialysis Weight Gain

Memahami dan mengelola gejala-gejala interdialisis pada penderita PGTA yang menjalani hemodialisis sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup. Beberapa strategi utama untuk pengendalian IDWG, antara lain:(1)

Pembatasan Cairan dan Garam

Pengelolaan cairan pada penderita yang menjalani hemodialisis tergantung pada perhitungan berat badan kering. Penderita penting melakukan pembatasan cairan dan garam secara personal untuk mencegah penambahan berat badan (IDWG) yang berlebihan. Namun, berbagai faktor menjadi hambatan bagi penderita untuk mematuhi anjuran tersebut. Rasa haus merupakan hambatan utama yang menyebabkan keinginan untuk minum.(2,3) Strategi yang dapat dilakukan untuk membatasi asupan cairan dan garam yaitu:(1,4,5)

  • Menghindari makanan dan minuman yang memicu rasa haus, seperti makanan pedas, asin, makanan tinggi natrium (misalnya makanan instan, keripik, makanan olahan/ kalengan, saus siap pakai, minuman bersoda).
  • Membatasi jumlah cairan sesuai anjuran tenaga kesehatan, misalnya dengan menggunakan gelas takar atau botol berukuran tertentu.
  • Membagi minum ke dalam porsi kecil sepanjang hari agar tidak merasa terlalu haus.
  • Mengurangi aktivitas fisik berlebihan yang dapat meningkatkan rasa haus, namun tetap melakukan olahraga ringan sesuai kemampuan.
  • Mengunyah permen karet bebas gula atau mengisap es batu kecil untuk membantu merangsang produksi air liur dan mengurangi mulut kering.
  • Berkumur dengan air dingin atau menggunakan semprotan air mulut (oral spray) untuk meredakan rasa haus.
  • Konsultasi rutin dengan ahli gizi untuk mendapatkan panduan diet rendah garam/ natrium dan batasan cairan sesuai kondisi klinis.
  • Menggunakan bantuan teknologi, seperti aplikasi ponsel atau website, yang dapat mencatat dan memberikan umpan balik terkait asupan cairan harian.
  • Meningkatkan kesadaran diri (self-monitoring) dengan menimbang berat badan setiap hari setelah dialisis untuk memantau kelebihan cairan.

Pengukuran IDWG menjadi parameter untuk menilai kepatuhan penderita terhadap pengaturan cairan. Maka, mencatat masukan cairan merupakan tindakan utama yang harus diperhatikan oleh penderita. Penambahan berat badan interdialisis (IDWG) yang diperbolehkan maksimal adalah 2,0 kg atau penderita hanya diperbolehkan mengonsumsi cairan maksimal 2 Liter selama periode diantara dua sesi dialiasis. Hal ini dianjurkan untuk mencegah penderita mengalami gejala interdialisis atau bahkan beresiko mengalami komplikasi yang dapat menimbulkan kematian.(6,7)

Sampai saat ini, kepatuhan penderita dalam menjalankan terapi masih menjadi tantangan.(2) Program edukasi dan konseling perilaku terbukti dapat meningkatkan self-efficacy dan perilaku kepatuhan, namun efektivitas jangka panjangnya masih terkendala oleh tantangan tersebut. Pengetahuan merupakan komponen penting dalam pengambilan keputusan dan tindakan. Pendidikan yang rendah akan menyebabkan seseorang berperilaku negatif karena terbatasnya penerimaan terhadap informasi yang tersedia.(8,9) Strategi peningkatan pengetahuan dan perilaku yang dapat dilakukan penderita PGTA, antara lain:(1,5)

  • Bergabung dengan kelompok pendukung (support group atau kelompok sesama penderita), yang dapat menjadi sarana berbagi pengalaman, saling memberi dukungan, serta mempermudah penderita dalam memahami dan mengelola kondisi secara efektif.
  • Mencari informasi yang tepat melalui tenaga kesehatan atau media edukasi yang terpercaya, seperti brosur, website resmi, atau aplikasi kesehatan, agar penderita mampu meningkatkan kemandirian dalam melakukan perawatan diri.
  • Mengikuti program edukasi kesehatan secara rutin, misalnya penyuluhan, kelas edukasi pasien, atau konseling gizi, yang dapat membantu memahami risiko komplikasi serta pentingnya kepatuhan terhadap terapi.
  • Meningkatkan efikasi diri (self-efficacy), dapat dilakukan dengan peningkatan pengetahuan tentang pengelolaan penyakit melalui sumber informasi dan program edukasi yang tepat sehingga penderita mampu mengelola dirinya sendiri, termasuk dalam pengaturan asupan cairan, pola makan, dan kepatuhan terhadap jadwal hemodialisis.
  • Melibatkan keluarga atau pendamping dalam proses perawatan, karena dukungan keluarga terbukti meningkatkan kepatuhan diet, minum obat, dan pembatasan cairan.
  • Memanfaatkan teknologi digital, seperti aplikasi atau website edukasi, untuk memantau asupan cairan, mendapatkan pengingat jadwal obat/ dialisis, serta akses informasi kesehatan yang valid.
  • Melakukan refleksi diri secara berkala, misalnya dengan mencatat keluhan, berat badan harian, atau tingkat rasa haus, sehingga penderita lebih sadar akan perilaku dan dapat melakukan perbaikan.

Mengoptimalkan frekuensi dan durasi dialisis terbukti membantu mencapai keseimbangan cairan tubuh dan menjaga stabilitas jantung. Manajemen interdialytic weight gain (IDWG) yang efektif memerlukan pendekatan yang bersifat personal sesuai kondisi masing-masing penderita. Penyesuaian konsentrasi natrium dalam cairan dialisat masih menjadi topik perdebatan, karena meskipun berpotensi mengurangi rasa haus, terdapat risiko terjadinya ketidakstabilan hemodinamik dan hipotensi intradialisis. Perkembangan teknologi seperti penggunaan kecerdasan buatan (AI) mendorong inovasi dialisis berbasis biofeedback. Sistem ini menggunakan sensor untuk mendeteksi kelebihan cairan dan menyesuaikan resep dialisis secara individual melalui pengaturan ultrafiltrasi, sehingga efisiensi pembuangan cairan meningkat tanpa meningkatkan risiko ketidakstabilan. Selain itu, penderita dianjurkan untuk berkonsultasi secara rutin dengan tenaga kesehatan untuk memastikan kecukupan resep dialisis yang dijalani. Hemodialisis yang optimal mampu mengeluarkan penumpukan cairan dan garam dari dalam tubuh sehingga dapat membantu mengendalikan IDWG.(10)

Peningkatan IDWG masih menjadi tantangan yang terus berlanjut pada pasien PGTA yang menjalani hemodialisis. Hal ini turut memicu penderita dan keluarga menggunakan terapi alternatif disamping pengobatan medis, karena adanya reaksi efek samping dari pengobatan medis yang diterima.(11) Terapi ini sering disebut dengan istilah complementary and alternative medicine (CAM) atau terapi komplementer. Namun, terapi ini tidak bisa menggantikan pengobatan medis, hanya sebagai pelengkap atau tambahan saja. Penderita dan keluarga harus selektif dalam memilih terapi komplementer. Lakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan (dokter, perawat) sebelum menggunakan terapi komplementer yang dipilih. Terapi komplementer yang digunakan harus sesuai dengan kondisi medis penderita.(12)

  1. Bossola M, Mariani I, Strizzi CT, Piccinni CP, Di Stasio E. How to Limit Interdialytic Weight Gain in Patients on Maintenance Hemodialysis: State of the Art and Perspectives. J Clin Med. 2025;14(6):1–17.
  2. Nurwidiyanti E. Keperawatan Ginjal dan Saluran Kemih: Manajemen Pasien Gangguan Urinaria In Keperawatan Medikal Bedah: Panduan Komprehensif Asuhan Pasien dengan Pendekatan Holistik. Penerbit Buku Loka; 2024.
  3. Muttaqin, A. and Sari K. Asuhan keperawatan gangguan sistem perkemihan. Jakarta, Salemba Medika.; 2011.
  4. Hidayati, S. and Sitorus R. Efektifitas Konseling Analisis Transaksional Tentang Diet Cairan Terhadap Penurunan Interdialytic Weight Gain (IDWG) Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisa Di Rumah Sakit Umum Daerah Kardinah. In: Prosiding Seminar Nasional & Internasional. 2014.
  5. Lambert K, Neale E, Nichols L, Brauer D, Blomfield R, Caurana L, et al. Interventions for improving adherence to dietary salt and fluid restrictions in people with chronic kidney disease (stage 4 and 5). Cochrane Database Syst Rev. 2022;2022(10).
  6. Payne, A., dan Barker H. Advancing Dietetics and Clinical Nutrition. United Kingdom: Churchill Livingstone Elsevier.; 2010.
  7. Kahraman A, Akdam H, Alp A, Huyut MA, Akgullu C, Balaban T, et al. Impact of interdialytic weight gain (IDWG) on nutritional parameters, cardiovascular risk factors and quality of life in hemodialysis patients. BANTAO J. 2015;13(1):25–33.
  8. Istanti YP. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap interdialytic weight gains (IDWG) pada pasien chronic kidney diseases (CKD) di Unit Hemodialisis RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Universitas Indonesia. Fakultas Ilmu Keperawatan.; 2009.
  9. Wayunah, Saefulloh, M., Nuraeni W. Pengaruh Edukasi Berdasarkan Teori Efikasi Diri Terhadap Interdyalitic Weight Gain ( Idwg ) Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis Di Unit Hemodialisa. J Pendidik Keperawatan Indones. 2016;2(1):22–8.
  10. RSUD Dr. (H.C) Ir. Soekarno. Hemodialisa [Internet]. 2023. p. 6–11. Available from: https://rsupsoekarno.id/halaman/page_detail/hemodialisa#:~:text=Hemodialisis
  11. Snyder, M. & Lindquist R. Complementary/alternative therapies in nursing. 4th ed. New York: Springer.; 2002.
  12. Mailani F. Terapi Komplomenter Dalam Keperawatan. CV Eureka Media Aksara [Internet]. 2023;91. Available from: https://medium.com/@arifwicaksanaa/pengertian-use-case-a7e576e1b6bf
Scroll to Top