Memahami dan mengelola gejala-gejala interdialisis pada penderita PGTA yang menjalani hemodialisis sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup. Beberapa strategi utama untuk pengendalian IDWG, antara lain:(1)
Pengelolaan cairan pada penderita yang menjalani hemodialisis tergantung pada perhitungan berat badan kering. Penderita penting melakukan pembatasan cairan dan garam secara personal untuk mencegah penambahan berat badan (IDWG) yang berlebihan. Namun, berbagai faktor menjadi hambatan bagi penderita untuk mematuhi anjuran tersebut. Rasa haus merupakan hambatan utama yang menyebabkan keinginan untuk minum.(2,3) Strategi yang dapat dilakukan untuk membatasi asupan cairan dan garam yaitu:(1,4,5)
Pengukuran IDWG menjadi parameter untuk menilai kepatuhan penderita terhadap pengaturan cairan. Maka, mencatat masukan cairan merupakan tindakan utama yang harus diperhatikan oleh penderita. Penambahan berat badan interdialisis (IDWG) yang diperbolehkan maksimal adalah 2,0 kg atau penderita hanya diperbolehkan mengonsumsi cairan maksimal 2 Liter selama periode diantara dua sesi dialiasis. Hal ini dianjurkan untuk mencegah penderita mengalami gejala interdialisis atau bahkan beresiko mengalami komplikasi yang dapat menimbulkan kematian.(6,7)
Sampai saat ini, kepatuhan penderita dalam menjalankan terapi masih menjadi tantangan.(2) Program edukasi dan konseling perilaku terbukti dapat meningkatkan self-efficacy dan perilaku kepatuhan, namun efektivitas jangka panjangnya masih terkendala oleh tantangan tersebut. Pengetahuan merupakan komponen penting dalam pengambilan keputusan dan tindakan. Pendidikan yang rendah akan menyebabkan seseorang berperilaku negatif karena terbatasnya penerimaan terhadap informasi yang tersedia.(8,9) Strategi peningkatan pengetahuan dan perilaku yang dapat dilakukan penderita PGTA, antara lain:(1,5)
Mengoptimalkan frekuensi dan durasi dialisis terbukti membantu mencapai keseimbangan cairan tubuh dan menjaga stabilitas jantung. Manajemen interdialytic weight gain (IDWG) yang efektif memerlukan pendekatan yang bersifat personal sesuai kondisi masing-masing penderita. Penyesuaian konsentrasi natrium dalam cairan dialisat masih menjadi topik perdebatan, karena meskipun berpotensi mengurangi rasa haus, terdapat risiko terjadinya ketidakstabilan hemodinamik dan hipotensi intradialisis. Perkembangan teknologi seperti penggunaan kecerdasan buatan (AI) mendorong inovasi dialisis berbasis biofeedback. Sistem ini menggunakan sensor untuk mendeteksi kelebihan cairan dan menyesuaikan resep dialisis secara individual melalui pengaturan ultrafiltrasi, sehingga efisiensi pembuangan cairan meningkat tanpa meningkatkan risiko ketidakstabilan. Selain itu, penderita dianjurkan untuk berkonsultasi secara rutin dengan tenaga kesehatan untuk memastikan kecukupan resep dialisis yang dijalani. Hemodialisis yang optimal mampu mengeluarkan penumpukan cairan dan garam dari dalam tubuh sehingga dapat membantu mengendalikan IDWG.(10)
Peningkatan IDWG masih menjadi tantangan yang terus berlanjut pada pasien PGTA yang menjalani hemodialisis. Hal ini turut memicu penderita dan keluarga menggunakan terapi alternatif disamping pengobatan medis, karena adanya reaksi efek samping dari pengobatan medis yang diterima.(11) Terapi ini sering disebut dengan istilah complementary and alternative medicine (CAM) atau terapi komplementer. Namun, terapi ini tidak bisa menggantikan pengobatan medis, hanya sebagai pelengkap atau tambahan saja. Penderita dan keluarga harus selektif dalam memilih terapi komplementer. Lakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan (dokter, perawat) sebelum menggunakan terapi komplementer yang dipilih. Terapi komplementer yang digunakan harus sesuai dengan kondisi medis penderita.(12)