Manajemen

Terapi Komplementer

Sejauh ini, beragam terapi komplementer telah dikembangkan dan digunakan bersama dengan pengobatan medis karena terbukti efektivitasnya berdasarkan hasil penelitian. Berbagai jenis terapi komplementer yang direkomendasikan dan dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien PGTA dan keluarga untuk mengatasi gejala interdialisis saat di rumah, antara lain:

1. Terapi Musik

Terapi musik merupakan salah satu terapi komplementer yang dapat dilakukan dengan mudah di waktu luang yang dimiliki oleh pasien. Terapi musik terbukti memiliki hasil positif dan menunjang dapat menurunkan kecemasan, kelelahan, depresi, stress, nyeri, menurunkan tekanan darah, menurunkan laju pernapasan, meningkatkan saturasi oksigen, dan meningkatkan kualitas tidur. Meskipun efektivitas langsung terhadap dyspnea atau sesak nafas pada pasien PGTA yang menjalani hemodialiasis belum dipelajari lebih lanjut, namun adanya penurunan laju napas dan peningkatan saturasi oksigen memberikan dasar yang logis bahwa terapi ini terbukti memberi manfaat bagi pasien.(1)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukan terapi musik:

  • Pilih jenis musik menenangkan sesuai preferensi atau kesukaan (dapat diskusikan dengan keluarga) dapat meningkatkan kenyamanan. Musik dapat berupa musik instrumental yang lembut (piano, gitar akustik, seruling, harpa), musik klasik (Mozart atau Beethoven), musik instrumental alami (suara hujan, ombak, gemericik air, burung berkicau), musik religious atau spiritual sesuai kepercayaan pasien serta bertempo lambat (mirip denyut jantung saat istirahat). Penggunaan surat Ar-Rahman sebagai terapi musik spiritual juga terbukti dapat menurunkan tekanan darah dan frekuensi nadi pada pasien pre operasi section cesarea yang mengalami kecemasan.(2)
  • Lakukan terapi ini saat menjalani proses hemodialisis, saat merasa cemas, saat sesak nafas, sebelum tidur atau saat sedang beristirahat di rumah.
  • Dengarkan musik dengan waktu 20-30 menit, 3 kali dalam seminggu.
  • Gunakan earphone atau speaker kecil dengan volume rendah agar tidak bising.
  • Ciptakan suasana lingkungan yang tenang, lampu redup, dan posisi yang nyaman.
  • Bila memungkinkan, minta keluarga untuk mendampingi agar tercipta rasa aman.
  • Lakukan evaluasi perasaan setelah terapi musik selesai (apakah lebih tenang, rileks, atau berkurang sesak nafasnya).
  • Jika gejala atau keluhan memberat (sesak nafas, kelelahan, dsb), segera periksa ke pelayanan kesehatan terdekat.

2. Diet khusus

Strategi diet merupakan terapi komplementer yang berperan penting dalam membantu mengurangi gejala yang muncul akibat penyakit ginjal tahap akhir, seperti kehilangan nafsu makan, mual dan muntah, mulut kering, konstipasi, diare, dst. Diet atau pola makan yang tepat tidak hanya mendukung pemenuhan kebutuhan gizi dan mencegah malnutrisi, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien melalui perbaikan energi, fungsi metabolik, serta pengendalian komplikasi. Selain itu, strategi diet juga berfungsi sebagai pendamping pengobatan utama (hemodialisis, terapi obat, terapi diet medis standar), dengan tujuan menyelaraskan pengendalian gejala, mencegah perburukan penyakit, serta memberikan pendekatan perawatan yang lebih holistik dan individual bagi pasien PGTA.(3,4)

Gejala Strategi Diet (5,6)
Penurunan nafsu makan
  • Perhatikan pola makan dan cari penyebab penurunan nafsu makan (misal rasa mual, bau masakan, atau kelelahan).
  • Pilih makanan sesuai selera atau kesukaan, tidak perlu terlalu membatasi saat mengalami penurunan nafsu makan.
  • Ciptakan lingkungan makan yang nyaman.
  • Hindari bau makanan atau masakan yang menyengat (bumbu rempah).
  • Tingkatkan asupan protein yang berkualitas tinggi dalam jumlah kecil tapi sering (misal telur, ikan, daging ayam tanpa kulit).
  • Tingkatkan aktivitas fisik ringan sesuai kemampuan (misal jalan kaki) untuk meningkatkan nafsu makan.
  • Jika perlu, konsultasikan ke dokter penggunaan suplemen seperti zinc untuk mengurangi rasa pahit dan logam di mulut.
Mual dan muntah
  • Makan dalam porsi kecil tetapi sering (small frequent meals).
  • Hindari melewatkan waktu makan atau makan tepat waktu secara teratur.
  • Hindari makanan berlemak, berminyak, atau berbau tajam (jeroan, ikan teri).
  • Hindari minum banyak saat makan.
  • Cobalah makanan yang dingin dengan porsi kecil (misal puding dingin, buah potong dingin).
  • Atasi sembelit atau konstipasi jika ada.
  • Jika mual dan muntah tidak mereda, konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan obat anti mual.
Mulut kering (xerostomia)
  • Hindari makanan asin, pedas, kalengan, minuman bersoda, dan kopi yang bisa memperburuk mulut kering.
  • Berkumurlah dengan air dingin secara teratur, hindari menggunakan obat kumur yang beralkohol.
  • Gunakan pelembap bibir (minyak kelapa, olive oil).
  • Kunyah permen karet bebas gula untuk merangsang air liur.
  • Gunakan es batu kecil atau buah dingin yang rendah kalium (potongan kecil stroberi atau anggur) untuk melembabkan mulut.
  • Jika perlu, konsultasikan ke dokter untuk penggunaan air liur buatan.
Sembelit atau konstipasi
  • Tambahkan makanan berserat yang rendah kalium seperti pir, anggur, wortel rebus dengan porsi kecil.
  • Minum cairan sesuai batasan yang ditetapkan, tetapi jangan terlalu sedikit.
  • Konsumsi probiotik alami seperti yogurt rendah kalium atau tempe rendah garam.
  • Makan dengan jadwal yang teratur.
  • Lakukan aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki untuk merangsang pergerakan usus.
  • Jika konstipasi menetap, segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat.
Diare
  • Konsumsi makanan rendah serat dengan porsi kecil seperti apel tanpa kulit, roti tawar tanpa gandum, dan bubur nasi.
  • Hindari makanan tinggi serat (sayuran mentah, makanan pedas).
  • Konsumsi probiotik rendah fosfor (misal yogurt rendah lemak, tempe rebus rendah garam).
  • Hindari produk susu, kopi, dan minuman yang tinggi gula.
  • Jika diare tidak kunjung sembuh dan memberat, segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan cairan pengganti dan/atau obat sesuai indikasi medis.
  1. Lin F, Chen L, Gao Y. Music therapy in hemodialysis patients: Systematic review and meta-analysis. Complement Ther Med [Internet]. 2024;86(September):103090. Available from: https://doi.org/10.1016/j.ctim.2024.103090
  2. Budiyatmi, T., Na’imah, S., Nurwidiyanti E. Pengaruh Terapi Murotal Al-Quran Terhadap Tekanan Darah Dan Frekuensi Nadi Pada Pasien Pre Operasi Sectio Caesarea (SC) Yang Mengalami Kecemasan Di Kamar Operasi RS Islam Yogyakarta PDHI. 2024. Available from:https://repository.gunabangsa.ac.id/index.php?p=show_detail&id=908&keywords=budiyatmi
  3. Snyder, M. & Lindquist R. Complementary/alternative therapies in nursing. 4th ed. New York: Springer.; 2002.
  4. Giannese D, D’Alessandro C, Panichi V, Pellegrino N, Cupisti A. Nutritional Treatment as a Synergic Intervention to Pharmacological Therapy in CKD Patients. Nutrients. 2023;15(12).
  5. Gelfand SL, Scherer JS, Koncicki HM. Kidney Supportive Care: Core Curriculum 2020. Am J Kidney Dis [Internet]. 2020;75(5):793–806. Available from: https://doi.org/10.1053/j.ajkd.2019.10.016
  6. KDIGO. KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. Kidney Int. 2024;105(1):S1–69.
Scroll to Top