Pedoman internasional merekomendasikan target IDWG kurang dari 4% berat badan kering, namun banyak penderita kesulitan mencapainya. Secara umum, penyebab utama kenaikan IDWG yeng berlebih yaitu asupan cairan berlebih, asupan tinggi natrium, kurangnya kepatuhan terhadap diet dan cairan, dan durasi antar dialisis yang panjang.(1,2,3)
- Asupan cairan yang berlebih, Cairan merupakan salah satu sumber stressor utama pada penderita PGTA yang menjalani hemodialisis. Enam puluh persen (60%) komposisi tubuh manusia adalah air. Ginjal yang sehat memiliki peranan penting untuk mengeluarkan air dari tubuh dalam bentuk urin dan menyeimbangkan osmolalitas darah. Sedangkan pada penderita PGTA, ginjal mengalami kerusakan dalam pembentukan dan pengeluaran urin sehingga dapat menyebabkan kelebihan volume cairan didalam tubuh.(4) Asupan cairan dikatakan berlebih pada penderita jika asupan cairan lebih besar daripada total cairan yang dikeluarkan dari tubuh. Asupan cairan selama periode dua waktu dialisis (interdialisis) yang melebihi batas yang disarankan dapat menyebabkan ketidakseimbangan volume cairan tubuh, kenaikan IDWG dan komplikasi terkait.(5,6)
- Asupan tinggi natrium atau garam, Makanan tinggi natrium atau garam dapat membuat penderita merasa lebih haus sehingga mengakibatkan minum lebih banyak. Natrium juga menahan air di dalam tubuh yang dapat meningkatkan IDWG.(5)
- Ketidakpatuhan terhadap diet cairan dan garam, Kepatuhan penderita dalam pembatasan cairan dan asupan natrium masih menjadi tantangan. Penderita sering mengalami kesulitan dikarenakan berbagai faktor seperti rasa haus yang berlebih, cuaca panas, dan rendahnya self-efficacy.(7,8)
- Durasi antar dialisis yang panjang, Jarak antar dialisis yang lebih lama, misalnya akhir pekan, lebih dari 3 hari tanpa dialisis dapat menyebabkan penumpukan cairan yang lebih banyak yang dapat berdampak pada kenaikan IDWG.
Berbagai faktor lainnya yang turut mempengaruhi kenaikan IDWG yang berlebih yaitu faktor internal meliputi usia, jenis kelamin, rasa haus, riwayat pendidikan dan self-efficacy, serta faktor psikososial seperti stress dan dukungan keluarga.(2,3)
- Usia, Usia merupakan faktor yang kuat tingkat kepatuhan penderita terhadap pengendalian IDWG. Penderita yang menjalani hemodialisis dengan usia yang lebih muda seringkali memiliki tingkat kepatuhan yang rendah dibanding penderita dengan usia yang lebih tua. Penderita yang lebih muda biasanya memiliki aktivitas fisik yang beragam sehingga nafsu makan, konsumsi cairan dan garam lebih banyak.(9,10) Penderita yang lebih muda juga seringkali beranggapan kurang rentan terhadap komplikasi karena sudah menjalani terapi hemodialisis.(11)
- Jenis kelamin, IDWG lebih banyak pada laki-laki dibandingkan pada perempuan, hal ini disebabkan konsumsi cairan pada laki-laki lebih besar akibat rasa haus setelah melakukan banyak aktivitas dibandingkan perempuan.(9)
- Rasa haus, Penderita PGTA seringkali mengalami kondisi kelebihan cairan akibat rasa haus yang kuat atau dalam dunia medis dikenal dengan xerostomia.(12) Rasa haus yang kuat ini menyebabkan keinginan untuk minum atau mengonsumsi makanan yang mengandung banyak cairan sehingga dapat mengakibatkan peningkatan asupan cairan dan kenaikan IDWG.(13,14) Rasa haus pada penderita juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lainnya, meliputi peningkatan osmolalitas atau kepekatan darah akibat penurunan fungsi ginjal, konsentrasi natrium dalam cairan dialisat, proses ultrafiltrasi saat hemodialisis (ultrafiltration rate atau UF rate), kondisi mulut kering, cuaca panas, asupan garam yang tinggi, kewajiban mengonsumsi obat-obatan tertentu, serta faktor psikologis.(3,7,12)
- Pendidikan, Tingkat pendidikan maupun pemberian edukasi berpengaruh pada tingkat kepatuhan penderita terhadap terapi yang harus dijalani. Penderita yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi seringkali memiliki kepatuhan yang tinggi. Penderita yang telah banyak mendapatkan pendidikan kesehatan juga memiliki kepatuhan terhadap terapi yang tinggi. Secara tidak langsung, riwayat pendidikan dan pemberian edukasi secara berkelanjutan dapat mempengaruhi seseorang dalam pengelolaan diri dan penerimaan terhadap informasi.(3,10)
- Self-efficacy, Self-efficacy atau efikasi diri adalah keyakinan bahwa seseorang memiliki kemampuan dalam melakukan aktivitas sehingga akan menentukan bagaimana seseorang merasa, berpikir, dan memotivasi dirinya untuk bertindak atau berperilaku.(15) Pada penderita PGTA, self-efficacy yang tinggi dibutuhkan untuk memunculkan rasa percaya diri dan motivasi diri agar dapat mematuhi terapi dan melakukan pengendalian cairan dengan baik sehingga dapat mencegah peningkatan IDWG.(10)
- Stres, Penyesuaian diri terhadap kondisi sakit akibat perubahan gaya hidup, kehilangan kebebasan dan harapan umur panjang menimbulkan perubahan suasana hati, masalah emosional, dan stres jangka panjang bagi penderita serta dapat berakhir menjadi depresi. Stres meningkatkan produksi hormon aldosteron dan glukokortikoid di dalam tubuh yang dapat mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit. Stres juga dapat mempengaruhi perilaku penderita dalam pengaturan cairan sehingga berakibat pada peningkatan IDWG.(16) Stres tidak boleh diabaikan karena dapat memperburuk gejala dan dapat menyebabkan kelelahan psikologis.
- Dukungan keluarga, Keluarga merupakan bagian terkecil dari lingkungan sosial. Keluarga memiliki peran penting dalam melindungi anggota keluarga secara fisik dan psikologis. Di sisi lain, dukungan keluarga kepada penderita dapat diberikan melalui motivasi, pengingat, dan perhatian terhadap asupan dan pembatasan cairan, sebagaimana direkomendasikan. Penderita yang mendapatkan dukungan keluarga akan merasa percaya diri, bahagia, berharga, dicintai, dihargai, dan diperhatikan, dan hal ini dapat meningkatkan pikiran positif penderita karena menerima dukungan verbal dan perilaku dalam menghadapi penyakitnya.(14,17)